Pagelaran Ketoprak Mahasiswa Satyakarta Sudarsana: Panggung Budaya dan Asa Generasi Muda


Penampilan lakon mahasiswa di Performance Hall FBSB UNY, Rabu  7 Mei 2025. dok.panitia ketoprak mahasiswa.

Di tengah gempuran budaya populer dan digitalisasi, warisan budaya tradisional seperti ketoprak kerap dipandang usang oleh sebagian generasi muda. Namun, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) justru membuktikan sebaliknya. Melalui pementasan lakon Satyakarta Sudarsana pada 7 Mei 2025 lalu, mereka mempersembahkan sebuah pementasan kethoprak dalam rangka Dies Natalis UNY ke-61 yang bukan sekadar hiburan, tetapi juga wujud nyata pelestarian budaya.

Kegiatan ini menjadi bukti keterlibatan mahasiswa dalam menjaga identitas budaya lokal melalui pendekatan yang kreatif dan kolaboratif. Dalam tridarma perguruan tinggi, aspek pengabdian kepada masyarakat tidak hanya berbentuk program sosial, tetapi juga bisa diwujudkan lewat panggung budaya yang mendidik dan menyentuh. Lewat lakon kethoprak, mahasiswa menyampaikan nilai-nilai sosial, kritik terhadap ketimpangan, dan pesan-pesan moral yang membumi.

Ketoprak sendiri merupakan seni pertunjukan tradisional yang memadukan drama, musik gamelan, tembang, dan dialog berbahasa Jawa. Dalam proses kreatifnya, mahasiswa tidak hanya menjadi aktor, melainkan juga penulis naskah, penata panggung, hingga pengatur iringan musik. Di sinilah letak implementasi tridarma lainnya: pendidikan dan penelitian. Mereka mempelajari sejarah kethoprak, meneliti relevansi temanya dengan isu sosial hari ini, lalu mengemasnya dalam sebuah pertunjukan yang komunikatif dan menghibur.

Meski pementasan ini diselenggarakan secara terbatas untuk sivitas akademika UNY, khususnya mahasiswa, semangat berbagi nilai budaya tetap dijaga dengan menghadirkannya melalui siaran di kanal YouTube resmi. Ruang perjumpaan antara kampus dan masyarakat pun tetap terjalin, meski dalam format digital. Mahasiswa, dosen, serta penonton daring dari berbagai kalangan tetap dapat menikmati karya seni yang sarat makna ini.

Satyakarta Sudarsana merupakan lakon yang diangkat oleh mahasiswa dalam pementasan ketoprak. Lakon ini menjadi wujud konkret dari asa generasi muda yang peduli akan akar budayanya. Mahasiswa yang tergabung di dalamnya menyadari bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya lewat wacana, tetapi juga perlu aksi nyata di ruang publik. Pementasan ini adalah bentuk cinta yang diwujudkan lewat kerja sama kolektif antara mahasiswa Fakultas bahasa seni dan budaya dengan Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.

Dalam suasana penuh apresiasi malam itu, Prof. Fauzan dalam sambutannya juga menyampaikan rasa bangganya terhadap UNY yang dinilainya telah melampaui peran sebagai institusi pencetak ilmuwan. Menurutnya, UNY juga berhasil menjadi ruang tumbuh bagi para budayawan muda yang turut menjaga nilai-nilai luhur bangsa. Kekaguman serupa juga datang dari Wakil Menteri Kemdikti bidang Sains dan Teknologi, yang menyampaikan rasa terkesannya terhadap komitmen mahasiswa UNY dalam melestarikan budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa. Di tengah semakin langkanya generasi muda yang peduli pada akar budayanya, ia berharap semoga para mahasiswa UNY dapat terus menjaga nilai-nilai tersebut, dilengkapi dengan akhlak yang baik, serta tumbuh menjadi pribadi teladan dan tokoh penting di masa depan.

Melalui peran serta mahasiswa dalam menjaga dan mempopulerkan ketoprak, UNY tidak hanya merayakan ulang tahun institusinya, melainkan juga menunjukkan kepedulian terhadap masa depan budaya lokal. Di tengah modernitas, warisan leluhur tetap bisa hidup selama ada yang memilih untuk terus menghidupkannya.

Lewat panggung Satyakarta Sudarsana ini, UNY bukan hanya merayakan usia, tapi juga menyalakan asa bahwa budaya bisa tetap hidup, selama ada generasi muda yang memilih menjaganya. Generasi muda hari ini, berdaya lewat semangatnya,sehingga mampu menjadi penjaga nyala lestarinya budaya.



 

Komentar

Postingan Populer