Coco (2017): Bedah Tokoh Miguel & Héctor ala Psikoanalisis Jungian

 

source Image  https://images.app.goo.gl/ngeCuQzzUKqYXLzw7
Pendahuluan

Siapa sih yang tidak tau film ini ? iyap benar sekali Film Coco (2017) karya Pixar Animation Studios. Film besutan Pixar Animation Studios bukan hanya menyuguhkan kisah keluarga dan petualangan di dunia arwah, tetapi juga memuat dimensi psikologis yang kompleks dan penuh makna. Tokoh utama, Miguel, adalah seorang anak laki-laki yang bergulat antara kecintaannya terhadap musik dan pertentangan nilai-nilai keluarga yang menolaknya. Sementara itu, Héctor, seorang tokoh dari Dunia Orang Mati, menjadi kunci penting dalam menyibak masa lalu keluarganya dan menjadi salah satu katalis yang mendorong penemuan jati diri Miguel. Dengan pendekatan psikoanalisis Carl Gustav Jung, esai ini akan mengeksplorasi bagaimana karakter Miguel dan Héctor mencerminkan proses psikologis manusia, termasuk konsep individuasi, shadow, persona, anima, arketipe, fungsi psikologis, sikap kepribadian, dan ketidaksadaran kolektif pada film tersebut.

Analisis pada essai  ini berangkat dari kebimbangan yang dialami penulis saat proses pengerjaan tugas akhir untuk mata kuliah ini. Sebelum memutuskan mengambil Coco sebagai objek yang diteliti penulis sudah sempat membreakdown sebuah film berjudul 27 step of may untuk dianalisis. Film ini menarik karena kita disuguhkan pengambaran psikologis tokoh yang kuat dengan minimnya dialog yang membuat kita benar-benar diajak untuk turut merasakan  trauma psikologis yang dialami tokoh yang merupakan korban pelecehan seksual secara kompleks pada setiap scene. Tapi ternyata pada proses pengamatan terdapat beberapa adegan self-harm atau non-suicidal self-injury (NSSI) yang merujuk pada tindakan tokoh menyakiti diri sendiri tanpa niat bunuh diri; yang membuat penulis cukup “ke triger” apalagi proses analisis mengharuskan penulis mengamati film tersebut secara berulang.

Akhirnya penulis tiba pada keputusan untuk menganti objek, yaitu film berjudul Coco. Film Coco dipilih bukan tanpa alasan. Pada tahun 2020 penulis sempat menulis sebuah draft pada laman talkwithdiy.blogspot.com yang merupakan blog pribadi penulis  yang berisi sebuah ikhtisar setelah menonton film coco. Hingga ada beberapa pertanyaan pada narasi tersebut yang membuat penulis terdorong untuk menganalisis Film ini lebih lanjut. Kenapa kebencian mama imelda kepada papa hector bisa diturunkan kepada semua keluarga? Kenapa papa hector sampai kehilangan jati diri dan tidak ingin bermain musik lagi setelah kegagalannya?  Miguel seperti gambaran papa hector semasa hidup nggak sih?. Beberapa pertanyaan yang cukup spontan dan terkesan ngawur ini malah menjadi dorongan untuk dipikirkan lebih lanjut oleh penulis. Dengan berbekal pemahaman teori psikoanalisis yang didapatkan, penulis akhirnya mantap mengambil teori Carl Gustav Jung untuk mengulik film ini secara keseluruhan.

Film Coco (2017) besutan Pixar Animation Studios sendiri telah menarik perhatian luas karena kekayaan nilai budaya, pesan moral, serta pendekatan emosional terhadap tema keluarga, kematian, dan ingatan. Meskipun banyak ulasan dan penelitian yang menyoroti nilai-nilai moral, konflik antar generasi, dan representasi budaya Meksiko dalam film ini, belum banyak kajian yang secara spesifik membedah Coco melalui pendekatan teori psikologi analitik Carl Gustav Jung.

Sebuah ulasan non-akademik oleh Karris Palmer yang sempat penulis baca sangat menarik. Sempat menyinggung aspek arketipe Jungian dalam karakter Miguel dan perjalanan "Hero's Journey"-nya, namun pembahasan tersebut masih bersifat permukaan dan belum menggali lebih dalam aspek-aspek kompleks lain seperti ketidaksadaran kolektif (collective unconscious), bayangan (shadow), anima/animus, maupun proses individuasi yang menjadi inti dalam pemikiran Jung.

Sementara itu, penelitian akademik yang tersedia cenderung berfokus pada konflik eksternal tokoh utama (seperti dalam tesis  berjudul An Analysis Of Main Character External Conflict In “Coco” Movie pada tahun 2023), atau aspek representasi budaya,pendidikan nilai dan semiotik terhadap simbol-simbol yang muncul dalam film. Hal ini membuka peluang untuk mengisi kekosongan dalam kajian film Coco dengan pendekatan psikologi analitik, khususnya analisis karakter Miguel dan Héctor sebagai figur yang mencerminkan dinamika Arketipe dan peran penting memori dalam struktur ketidaksadaran kolektif.

Dengan demikian, pada tulisan ini penulis bertujuan untuk menawarkan analisis terhadap karakter Minguel dan Héctor dalam film Coco melalui lensa teori Carl Gustav Jung, sebagai upaya memperkaya diskursus psikologi film sekaligus menunjukkan kompleksitas identitas, trauma, dan pemulihan dalam narasi populer pada film animasi.

Struktur Kepribadian Manusia dalam Pandangan Jung




Carl Gustav Jung, seorang murid dari Sigmund Freud, mengembangkan teori psikoanalisis yang menekankan pentingnya alam bawah sadar kolektif dan pencarian jati diri sebagai inti dari kehidupan manusia. Carl Gustav Jung melihat kepribadian manusia sebagai sebuah sistem psikis total yang ia sebut sebagai psyche, yang terdiri dari berbagai bagian saling terhubung dan terus bergerak menuju satu tujuan: keutuhan diri (Self).


 Beberapa konsep utama dalam teori Jung antara lain:

Ego: Kesadaran diri seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Ego adalah jiwa sadar yang terdiri dari persepsi, ingatan, pikiran, dan perasaan sadar (Lindzey, 1993: 182). Dalam hal ini ego tidak sama dengan psyche, ego hanyalah merupakan satu aspek pemusatan dalam psyche yaitu terletak pada kesadaran.(Suryosumunar, 2019)

Self unconscious: atau ketidaksadaran pribadi merupakan bagian dari psyche yang dibawah ego. Ketidaksadaran pribadi ini terdiri dari pengalaman-pengalaman yang pernah berada dalam kesadaran tetapi direpresi, disupresikan, dilupakan atau diabaikan (Lindzey, 1993: 183). Pengalaman tak sadar ini merupakan bagian dari  rangkaian pengalaman dan kesan-kesan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari tetapi tidak cukup kuat untuk diterima di alam sadar. Sehingga berpengaruh dalam tingakah laku secara tidak sadar.

Collective unconscious: Ketidak sadaran kolektif ini adalah bagian paling dalam dari kepribadian. Ketidak sadaran kolektif adalah sisa psikis perkembangan evolusi manusia, sisa yang menumpuk sebagai akibat dari pengalaman-pengalaman yang berulang selama banyak generasi (Lidzey, 1993: 184).  Isi dari ketidaksadaran kolektif ini adalah apa yang dikatakan sebagai arketipe, yang merupakan bentuk bawaan lahir dari psyche, pola dari psikis yang selalu ada secara potensial sebagai kemungkinan (Jung, 1987: 7).

Setelah masuk pada pemaparan beberapa konsep utama dari jung kita akan masuk pada arketipe yang merupakan bagian dari Collective unconscious atau ketidaksadaran kolektif. Arketipe adalah salah satu konsep yang cukup dikenal dalam teori Jung. Arketipe merupakan suatu bentuk-bentuk tidak langsung dari bagian struktur insting yang hanya dapat disimpulkan dengan bayangan visual ataupun dengan bahasa (Nimpoeno, 2003: 55). Yang akan di jelaskan sebagai berikut:

·Persona, adalah topeng yang dipakai sang pribadi sebagai respon terhadap tuntutan kebiasaan tradisi masyarakat, serta terhadap kebutuhan arketipal sendiri (Lindzey, 1993: 188).

· Bayangan (Shadow), yaitu represi yang menampilkan kualitas-kualitas yang tidak akui keberadannya dan berusaha disembunyikan dari diri sendiri dan orang lain. Menurut Jung (1987) Shadow ini bisa dikatakan sebagai suatu bentuk problem moral yang menantang keseluruhan kepribadian ego, karena tidak seorang pun dapat menyadari shadow-nya tanpa usaha moral yang besar.

· Anima dan animus adalah arketipe yang menggambarkan suatu karakteristik seksual yang hadir disetiap pria maupun wanita. Arketipe elemen feminin dalam pria adalah anima, sedangkan animus yang berkaitan dengan akal, budi dan rasio merupakan arketipe elemen maskulin pada wanita (Jung, 1987: 106, 107).

· Self atau diri dapat juga dikatakan sebagai psyche yang merupakan kepribadian secara keseluruhan. Tetapi dalam hal ini self yang dimaksud adalah suatu arketipe yang mencerminkan perjuangan manusia ke arah kesatuan (Lindzey, 1993: 1991). Diri ini merupakan puncak arketipe yang dituju setiap manusia, didalamnya terdapat dorongan untuk mendapatkan kebulatan diri. Diri dikonsepsikan sebagai suatu cetak biru energy yang memiliki kemampuan merealisasikan atau yang disebut sebagai individuasi.(Suryosumunar, 2019)

Diskusi Dan Pembahasan

Struktur Ketidaksadaran Tokoh Miguel dan Héctor

Miguel

Ketidaksadaran pribadi dalam diri Miguel tampak dalam bagaimana ia memendam keinginannya untuk bermusik sejak kecil. Dalam pandangan Sarwono (1987), ketidaksadaran pribadi adalah segala hal yang diperoleh individu selama hidupnya namun tidak mendapatkan saluran di tingkat sadar karena terhambat oleh nilai atau tekanan luar. Dalam hal ini, Miguel menyimpan harapan, hasrat, dan rasa kagum terhadap musik sebagai bagian dari impiannya yang paling mendalam. Akan tetapi, nilai-nilai keluarga yang secara turun-temurun menolak musik menyebabkan dorongan itu tertahan dan menjadi bagian dari ketidaksadaran pribadinya. Ia harus berpura-pura patuh dan menyembunyikan sisi dirinya yang sebenarnya, menjadikan dirinya mengalami konflik antara ego yang ingin diterima oleh keluarga dan ketidaksadaran pribadi yang mengandung kerinduan akan kebebasan dan ekspresi diri.

Sementara itu, ketidaksadaran kolektif dalam diri Miguel mewujud dalam warisan psikologis keluarga Rivera yang menolak musik. Penolakan tersebut diwariskan dari trauma Mama Imelda ketika ditinggalkan Héctor untuk bermusik, dan secara simbolik ditanamkan pada semua generasi setelahnya. Ketidaksadaran kolektif ini bukan hanya berbentuk larangan eksplisit, melainkan juga menanamkan rasa bersalah dan takut terhadap musik itu sendiri. Melalui petualangan Miguel di Tanah Orang Mati, ia secara simbolik memasuki alam bawah sadar ruang arketipal tempatt ia berhadapan langsung dengan sejarah dan luka keluarganya. Proses ini kemudian membawanya pada tahap individuasi penyatuan antara dirinya sebagai pecinta musik dan identitasnya sebagai bagian dari keluarga yang sempat menolak musik.

Héctor

Berbeda dengan Miguel, struktur ketidaksadaran pribadi Héctor dibentuk oleh perasaan bersalah dan kehilangan. Sebagai seorang ayah dan suami, Héctor memiliki keinginan kuat untuk kembali ke keluarganya, tetapi tidak pernah sampai karena ia diracuni oleh Ernesto. Dorongan untuk memperbaiki dan menghubungkan kembali relasi yang rusak, menjadi hasrat terpendam yang membentuk ketidaksadaran pribadinya. Dalam kehidupan setelah mati, Héctor digambarkan sebagai sosok yang gelisah dan penuh kerinduan akan diingat kembali oleh anaknya, Coco. Ia mewakili bagian dari sejarah keluarga yang terlupakan, namun tidak pernah berhenti berusaha untuk kembali diakui.

Ketidaksadaran kolektif dalam diri Héctor menyatu dengan perannya sebagai shadow dalam narasi keluarga Rivera. Ia adalah bagian dari sejarah yang dihilangkan, sosok yang disalahpahami sebagai penyebab kehancuran keluarga. Penolakan terhadap dirinya berlangsung secara transgenerasional, menjadikannya arketipe “ayah yang terlupakan” yang harus ditolak demi mempertahankan kehormatan keluarga. Namun, saat Miguel mulai menggali kebenaran, Héctor sebagai bagian dari ketidaksadaran kolektif itu mulai muncul ke permukaan. Ia membawa nilai kasih sayang, kejujuran yang seharusnya diteruskan. Dalam konteks psikoanalisis Jung, ini menunjukkan bahwa ketidaksadaran kolektif bukan semata-mata warisan luka, tetapi juga ruang penyimpanan makna dan identitas yang hilang, yang bisa diakses melalui keberanian untuk menggali dan mengenali masa lalu.

Archetype Yang Muncul Dalam Film

Miguel:

Tokoh Miguel mewakili perjalanan seorang individu dalam mencari identitas sejatinya. Ia memiliki kecintaan mendalam terhadap musik, namun keluarganya melarang keras segala bentuk musik karena peristiwa masa lalu yang menyakitkan. Larangan tersebut memaksa Miguel menyembunyikan keinginannya dan menciptakan persona sebagai anak yang patuh, padahal di baliknya ia merasa tertekan. Terlepas dari larangan musik yang membingungkan keluarganya, Miguel bermimpi untuk menjadi musisi berprestasi seperti idolanya, Ernesto de la Cruz.

Persona dan Ego: Miguel menciptakan persona anak yang patuh terhadap keluarga, persona ini muncul sebagai bentuk agar ia diterima oleh keluarganya. Tetapi dalam realitasnya secara sadar miguel memberontak secara diam-diam,   dengan menyimpan gitar dan mempelajari musik secara sembunyi-sembunyi.



Seperti pada beberapa scene pada bagian awal, persona yang miguel bangun di rumah membuat miguel tidak dapat dengan leluasa menceritakan mimpinya untuk bisa menjadi seorang musikus karena adanya nilai-nilai keluarga terhadap musik yang dianggap tabu, sehingga karena hal tersebut miguel akhirnya hanya dapat menceritakan hal tersebut pada orang lain yang ia temui di luar rumah. Jika dilihat pada cuplikan film, pada scene tersebut miguel  sedang berbincang dengan seorang pelangan pria yang membawa gitar, miguel mengungkapkkan bahwa dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada keluarganya jika ia  memiliki mimpi menjadi seorang musikus. Pada scene tersebut miguel lebih leluasa bercerita dengan pria tersebut karena tidak adanya rasa khawatir untuk ditolak.

Tokoh Miguel dalam film Coco juga memenuhi pola protagonis klasik yang umum ditemukan dalam narasi heroik. Seperti yang dikemukakan oleh Straker (2002), pahlawan atau pahlawan wanita cenderung digambarkan sebagai karakter yang mengalami transformasi pribadi setelah menghadapi berbagai rintangan. Mereka sering kali memulai perjalanan sebagai orang biasa yang dapat diproyeksikan oleh penonton. Miguel merepresentasikan pola dasar ini secara utuh ia adalah anak laki-laki biasa dengan aspirasi luar biasa untuk menjadi musisi, tetapi dilarang oleh keluarganya karena trauma turun-temurun terhadap musik.

Konflik Ego dan Shadow: Kecintaan Miguel terhadap musik yang dianggap tabu dalam keluarganya adalah representasi dari shadow. Musik menjadi bayangan yang direpresi oleh struktur keluarga. Kecintaan miguel terhadap musik tidak diakui keberadannya dan miguel berusaha menyembunyikan hal tersebut dari orang lain. Pada bagian ini terdapat konflik ego pada diri miguel yang ingin mewujudkan mimpi besarnya untuk menjadi seorang musikus secara sadar. Namun terdapat sebuah pertentangan dengan shadow terhadap Musik yang menjadi bayangan yang direpresi oleh keluarga miguel secara kolektif.


Miguel watching Ernesto video

Scene Ini menggambarkan konflik antara ego dan shadow. Miguel menunjukkan persona sebagai anak yang patuh pada keluarganya, tapi diam-diam memupuk kecintaannya terhadap musik. Dalam teori Jung, ini adalah fase awal individuasi, ketika seseorang mulai sadar ada "bagian diri" yang direpresi dan butuh dihadapi. Shadow di sini adalah musik yang dianggap tabu, dan Miguel sedang dalam fase awal pengakuan atas shadow-nya. Musik adalah shadow yang ditolak keluarga. Miguel memendam dorongan ini karena bertentangan dengan nilai-nilai keluarga. Shadow ini menjadi konflik internal yang harus dihadapi miguel untuk menuju aktualisasi dirinya.

Petualangan ke Dunia Orang Mati: Dunia arwah dalam Coco dapat dianalogikan sebagai dunia bawah sadar tempat Miguel mengalami pertemuan dengan shadow dan memori leluhur. Dalam proses ini, ia mulai menyadari bahwa apa yang dianggap tabu oleh keluarganya bukanlah sesuatu yang salah, tetapi akibat dari trauma yang tidak pernah disembuhkan. Hal ini terlihat seperti upaya untuk mengungkapkan sebuah ketidaksadaran kolektif yang ada pada keluarga miguel secara turun temurun terhadap musik. Dimulai dari rasa benci mama imelda saat ditinggalkan papa hecttor pergi untuk menjadi musikus dunia.



Miguel Arrives in the Land of the Dead

Adegan ini melambangkan masuknya Miguel ke dalam alam bawah sadar, yaitu dunia di mana ia menghadapi shadow milik keluarganya. Dalam psikoanalisis Jung, Dunia Orang Mati disini bisa dimaknai sebagai metafora dari "collective unconscious", tempat memori leluhur, trauma, dan arketipe hidup. Perjalanan ini adalah bagian dari proses individuasi Miguel karena ia harus menyelami bagian terdalam dirinya dan sejarah keluarganya yang terpendam hingga akhirnya menemukan sebuah jawaban untuk bisa menjadi dirinya yang utuh.

Héctor:

Héctor Archetype Shadow: Héctor adalah tokoh yang awalnya disalahpahami. Ia digambarkan sebagai pengganggu yang menyebalkan dan rendah dalam tatanan masyarakat Dunia Orang Mati. Namun, seiring perkembangan cerita, terungkap bahwa ia adalah kakek Miguel yang sesungguhnya, dan justru ia adalah korban dari pengkhianatan Ernesto de la Cruz. Héctor mewakili bagian dari sejarah keluarga yang ditolak dan dilupakan. Dalam keluarga Miguel, ia adalah simbol dari trauma dan kesalahan masa lalu. Shadow dalam konteks ini bukan sekadar sisi gelap individual, tetapi juga memori kolektif yang ditekan oleh generasi ke generasi.

Ernesto de la Cruz Personifikasi Dari Shadow Kolektif Keluarga Rivera:



Ernesto de la Cruz disini memanipulasi Miguel dengan berpura-pura menerima dan memujinya, sebelum akhirnya menunjukkan niat jahatnya

Dalam film ini, jika kita cermati lebih dalam,  pola dasar bayangan (shadow archetype) sebenarnya sangat terpenuhi oleh karakter Ernesto de la Cruz. Menurut Bernstein (2018), bayangan dalam sebuah narasi seringkali menjadi “rintangan utama dan paling berbahaya” bagi pahlawan, atau dapat juga muncul sebagai “kualitas yang lebih gelap dari kepribadian sang pahlawan atau aspek-aspek yang tidak disadari atau ditolak dari diri.” Ernesto disini memanipulasi Miguel dengan berpura-pura menerima dan memujinya, sebelum akhirnya menunjukkan niat jahatnya. Ia adalah tokoh yang meracuni dan membunuh Héctor demi mencuri karyanya, dan mencoba menggagalkan upaya Miguel untuk mengungkap kebenaran.

Ernesto menjadi personifikasi dari shadow kolektif yang membayangi keluarga Miguel representasi dari ketenaran palsu, egoisme, dan pengkhianatan yang selama ini tertutupi oleh glorifikasinya sebagai sosok selebritas. Dengan menghadapi Ernesto dan mengungkap kebenaran, Miguel tidak hanya berhasil menyelamatkan warisan keluarganya, tetapi juga menyatukan kembali para leluhurnya serta menyembuhkan luka psikologis yang diturunkan secara kolektif dalam keluarganya.

  • Anima dan Cinta Keluarga: Héctor sangat emosional, penuh kasih, dan memiliki hubungan emosional yang kuat dengan putrinya, Coco. Ia memperlihatkan sisi anima yang menguatkan dimensi emosional dalam dirinya, menjadikannya tokoh yang kompleks dan penuh kasih sayang.
  • Arketipe Ayah Sejati: Tidak seperti Ernesto yang menjadi figur ayah palsu dan simbol ilusi, Héctor adalah representasi dari arketipe the father atau "ayah sejati" dalam teori Jung  yakni sosok pelindung, penyayang, dan penuh nilai kebenaran. Ia adalah tokoh yang membawa Miguel pada kebenaran dan membantu proses individuasi cucunya.

Pada scene ini Héctor dan Coco memiliki hubungan ayah dan anak yang manis, yang ditunjukkan melalui urutan kilas balik sebelum mereka dipertemukan kembali di akhir film.











Proses Individuasi:



Miguel menyanyikan “Remember Me” di depan Mama Coco


Ini adalah momen di mana shadow kolektif dalam keluarga Miguel mulai diintegrasikan. Héctor yang dulu ditolak dan dilupakan kini mulai "diingat" melalui lagu. Miguel bertindak sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini, menyatukan sejarah keluarganya dengan identitas barunya. Dalam konteks ini adalah puncak proses individuasi, saat identitas personal (pecinta musik) dan identitas kolektif (keluarga) bersatu. Lagu "Remember Me" juga menjadi simbol dari ketidaksadaran kolektif yang kini dibawa ke permukaan dan disembuhkan.

Integrasi Shadow dan Keseimbangan:







Ketika kebenaran tentang Héctor terungkap, keluarga Miguel menerima kembali bagian dari sejarah mereka yang sempat dilupakan. Ini merupakan bentuk integrasi shadow secara kolektif yang memungkinkan penyembuhan dan transformasi. shadow merupakan persoalan moral yang menantang keseluruhan kepribadian ego, karena tidak seorang pun dapat menyadari bayangannya sendiri tanpa upaya moral yang besar. Pada perjalanan Miguel ke Tanah Orang Mati menjadi titik balik dalam proses transformasi dirinya. Di dunia bawah sadar ini, ia menghadapi perjuangan pribadi dan konflik keluarga yang telah lama terkubur. Di sepanjang perjalanan tersebut, Miguel tidak hanya menyadari kebenaran tentang identitas kakek buyutnya yakni Héctor Rivera, bukan Ernesto de la Cruz, yang merupakan leluhur sejatinya tetapi juga menjadi agen pemulihan kolektif keluarga melalui pengakuan akan kebenaran dan rekonsiliasi. Butuh keberanian moral dari Miguel untuk mencari kebenaran tentang masa lalu tersebut, meskipun ia harus melawan nilai-nilai keluarga yang selama ini diyakininya. Ketika Héctor akhirnya diakui kembali dan kebenaran terungkap, keluarga Rivera mengalami penyembuhan dan rekonsiliasi. Mereka menerima kembali bagian dari identitas mereka yang selama ini disangkal, dan ini menjadi titik balik penting menuju keseimbangan dan keutuhan identitas keluarga maupun individu.

Kesimpulan

Melalui pendekatan psikoanalisis Jung, Coco bukan sekadar film animasi yang menyentuh secara emosional, tetapi juga merupakan kisah simbolis tentang perjalanan psikologis menuju keutuhan diri. Tokoh Miguel menjalani proses individuasi yang kompleks, di mana ia harus menghadapi ketidaksadaran pribadinya berupa hasrat bermusik yang direpresikan, serta ketidaksadaran kolektif berupa larangan keluarga terhadap musik. Sementara itu, Héctor menjadi representasi shadow kolektif keluarga Rivera sosok ayah yang dilupakan, namun justru menyimpan nilai-nilai penting yang dibutuhkan untuk penyembuhan generasi.

Proses pengungkapan kebenaran tentang Héctor menjadi simbol dari integrasi shadow yang memungkinkan transformasi psikologis, baik secara individual bagi Miguel maupun secara kolektif bagi keluarganya. Film ini menekankan bahwa untuk menjadi individu yang utuh, seseorang perlu keberanian moral untuk menghadapi luka masa lalu, menggali ingatan yang terlupakan, dan menyatukan bagian-bagian diri yang sebelumnya disangkal. Dengan demikian, Coco mengajarkan bahwa penerimaan diri dan penyembuhan hanya mungkin terjadi ketika kita mampu mengenali, memahami, dan memeluk keseluruhan aspek diri baik terang maupun gelap.

 

catatan penulis: tulisan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penulis terbuka sekali untuk kritik,saran,dan diskusi lebih lanjut. Terima kasih sudah berkenan membaca. 

with love didi 🌻

 


Daftar Pustaka

Andari, A. H. (2018). The Representation of Father Figure in The Last of Us Video Game (Doctoral dissertation, Universitas Brawijaya).

Bernstein, R. (2018), Archetypal Characters in the Hero’s Journey. [Online] At:   https://online.pointpark.edu/screenwriting/archetypal-characters-heros-journey/ (Accessed on 20 October 2019)

Suryosumunar, J. A. (2019). Konsep Kepribadian dalam Pemikiran Carl Gustav Jung dan Evaluasinya dengan Filsafat Organisme Whitehead. Sophia Dharma: Jurnal Filsafat Agama Hindu Dan Masyarakat, 2(1), 18–34. http://e-journal.stahn-gdepudja.ac.id/index.php/SD/article/view/171

Lindzey, Gardner dan Hall, Calvin S. 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Kanisius: Yogyakarta

Nimpoeno, John S. 2003. Konsep Arketipe C. G. Jung dalam Psikoanalisis dan Sastra. Lembaga Penelitian UI: Jakarta

Rokhim, M. N., & Zustiyantoro, D. (2022). Kepribadian Sambangseta dalam Cerkak Nyaur Taun Karya Purwadmadi: Kajian Psikologi Analitik CG Jung. In SINASTRA: Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Seni, dan Sastra (Vol. 1, pp. 30-43).

Karris Palmer - BA (Hons) Computer Animation Arts: Film Reviews: Coco (2017) and Archetypes

https://www.simplypsychology.org/carl-jung.html

https://personality-psychology.com/guide-12-jungian-archetypes/

https://www.japriz.com/p/unveiling-the-intriguing-depths-of

https://youtu.be/tFi5IlHtuus?si=XEZwzmlURKmieaC_

https://youtu.be/yOvfedkA_JM?si=dItWqCHxlMlEtP3X

https://youtu.be/WZPudzlOlhg?si=QbFqQqdYijtVoXcY

 

 

 

 

 

 

Komentar