Cerpen "Biar Bunga Bersemi Bersama" Karya Risang Anom Pujayanto dalam perspektif Sosiologi Sastra
Karya sastra menurut Swingewood adalah dokumen sosiobudaya yang dapat digunakan untuk melihat suatu fenomena dalam masyarakat pada masa tersebut. Karya sastra dapat dikatakan sebagai representasi suatu kebudayaan tertentu. Merunut pada yang telah diungkapkan di atas, Swingewood berpendapat bahwa karya sastra buklanlah artefak, melainkan hasil proses dialektika pemikiran. Sehingga, pengarang memiliki ruang yang luas untuk memainkan kepekaannya terhadap perasaan dan pengalamannya melalui karya-karyanya. (Wahyudi, 2013)
Seperti yang pernah dikemukakan oleh Sapardi Djoko Damono (1979), salah seorang ilmuwan yang mengembangkan pendekatan sosiologi sastra di Indonesia, bahwa karya sastra tidak jatuh begitu saja dari langit, tetapi selalu ada hubungan antara sastrawan, sastra, dan masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap karya sastra pun harus selalu menempatkannya dalam bingkai yang tak terpisahkan dengan berbagai variabel tersebut: pengarang sebagai anggota masyarakat, kondisi sosial budaya, politik, ekonomi yang ikut berperan dalam melahirkan karya sastra, serta pembaca yang akan membaca, menikmati, serta memanfaatkan karya sastra tersebut.(Wiyatmi, 2013)
Sastra berperan sebagai refleksi kehidupan sosial masyarakat dengan menggambarkan realitas sosial dalam bentuk karya sastra. Dapat dikatakan, karya sastra mencerminkan bagaimana pengarang memandang lingkungan sekitarnya. Keberadaan karya sastra merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, di mana pengarang sebagai individu berupaya mengungkapkan pandangan dunianya melalui karyanya. Kaitannya dengan sastra sebagai refleksi masyarakat, istilah “cermin” sering dianggap ambigu karena dapat menimbulkan kesalahpahaman, yaitu menyamakan persoalan sosial dalam karya sastra dengan realitas sosial yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Padahal, yang dimaksud adalah bagaimana pengarang memandang dan menafsirkan realitas sosial pada masanya. Kaitannya dalam konteks ini, karya sastra berfungsi sebagai gambaran persepsi sosial pengarang dalam memahami dan menginterpretasikan perilaku masyarakat berdasarkan kondisi sosial yang ada di sekitarnya.(Sihombing et al., 2025)
Dalam Cerpen “Biar Bunga Bersemi Bersama” karya Risang Anom Pujayanto merupakan narasi yang sarat nilai sosial, pendidikan, dan kesadaran kolektif masyarakat pinggiran kota. Melalui pendekatan sosiologi sastra, kita dapat melihat bagaimana karya ini mencerminkan realitas sosial, peran pendidikan dalam pembentukan masyarakat, dan bagaimana hubungan individu dan lingkungannya dibangun serta dikritisi lewat tokoh-tokohnya. Kaitannya dalam hal tersebut, penulis ingin melihat bagaimana cerminan masyarakat yang ditunjukkan oleh penggarang di dalam cerpen ini. Agar dapat melihat bagaimana cerminan masyarakat yang ditampilkan di dalam cerpen Biar Bunga Bersemi Bersama ini, penulis akan menggunakan pisau bedah kajian sosiologi sastra.
Representasi Tokoh sebagai Cerminan Sosial
Sastra adalah cerminan masyarakat, yang menunjukkan kemampuannya untuk merefleksikan kondisi sosial di sekitarnya. Bahkan, karya sastra yang tidak secara eksplisit bertujuan demikian pun tetap bisa memberikan gambaran tentang kehidupan komunitas. Oleh karena itu, sudut pandang sosial pengarang menjadi krusial saat meneliti sastra sebagai representasi masyarakat. Dalam cerpen ini tokoh utama, Pak Soli atau lebih akrab disapa “Pak Guru”, merupakan figur sentral yang merepresentasikan guru idealis, sederhana, dan bersahaja di tengah sistem pendidikan dan masyarakat yang mulai berubah arah. Ia digambarkan sebagai sosok konservatif berpegang teguh pada nilai-nilai lama, tidak terpengaruh oleh modernisasi dalam berpakaian, bahkan tetap mempertahankan gaya pedagogis klasik. Ini menunjukkan adanya tegangan antara nilai lama dan nilai baru dalam masyarakat, yang mencerminkan pergulatan sosial akibat adanya perubahan zaman.
Sementara itu, tokoh Angta mewakili generasi muda yang terbuka terhadap kemajuan namun tetap memiliki kesadaran akan akar budaya. Ia kritis terhadap perubahan sosial yang terjadi disekitarnya, tetapi tetap memilih cara berpikir yang seimbang. Ini menunjukkan adanya kesadaran generasi muda terhadap globalisasi yang tetap dibingkai dalam identitas lokal.
“Pak Guru, demikian panggilan akrab pria pemilik nama asli Soli ini. Kendati tidak dikatakan sendiri apa profesinya, selingkung kecil Gadel kawasan pinggiran kota Surabaya pasti mengetahui siapa Soli. Bagaimana tidak, selama ini selain dapat diketahui langsung dari nama panggilan, belum pernah seorang pun staf pengajar di pinggiran kota berani berinisiatif meninggalkan gaya pedagogis baku yang pernah secara halus dipropagandakan kaum imperialisme. Tentu tak terkecuali Pak Guru Soli sendiri. Tubuh Soli merupakan gambaran lekuk kastok klasik kanonik patriotisme tanpa jas, jazz dan tanda jasa. Insting yang berkarat pada patron lama menuntun hingga di bilangan cara berjalan dan gaya berpakaiannya. Soli adalah apa yang tampak di mata warga Gadel.”
Dalam cerpen ini, Pak guru Soli muncul sebagai gambaran guru tradisional yang teguh memegang nilai-nilai konservatif, patriotisme lokal, dan semangat anti-kolonialisme. Bahkan, pengambaran penampilan fisiknya mulai dari cara berpakaian hingga gaya berjalannya turut menjadi simbol identitas sosial dan budaya masyarakat Gadel, sebuah kawasan masyarakat urban yang dikenal karena kesederhanaan dan idealismenya.
Tokoh seperti Pak guru Soli adalah ilustrasi bagaimana karakter fiktif dapat mencerminkan struktur sosial dan nilai-nilai komunitas asalnya. Ia bukan sekadar karakter rekaan, melainkan representasi tipe sosial tertentu: seorang pendidik yang kokoh pada prinsip nasionalisme lama, bahkan di tengah pergeseran masyarakat menuju modernitas dan pragmatisme.
Dengan kata lain, Pak guru Soli ini adalah “cerminan sosial tokoh” dari nilai-nilai lama yang masih bertahan di tengah masyarakat urban yang mulai menghadapi modernitas, dan keberadaannya dalam teks menjadi kritik halus atas pudarnya karakter sosial seperti itu di masa kini.
Pendidikan sebagai Pilar Kesadaran Sosial
Pendidikan bukan hanya soal mata pelajaran, seperti yang ditunjukkan Pak Guru Soli. Ia mengajarkan nilai-nilai moral, nasionalisme, dan kedisiplinan bahkan melalui kebiasaan sepele seperti buang air kecil yang bersih. Inilah yang disebut pendidikan mikro sosial: pengaruh seorang guru tidak terbatas di kelas, melainkan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Julukan “guru kencing berdiri” adalah simbol kuat tentang bagaimana tindakan kecil dapat menciptakan dampak besar pada tatanan komunitas. Karya ini secara sosiologis menyoroti bagaimana guru dapat menjadi agen perubahan dan penjaga moralitas, mampu membentuk budaya sosial meskipun upaya struktural pemerintah gagal.
“Selama ini Soli tidak pernah muluk-muluk membuat program khusus dan memaksakan pandangannya dalam skala luas seperti pemerintahan kota Surabaya maupun Gubernur Jenderal Surabaya. Tidak. Ia hanya memulai terlebih dahulu dengan cara mendisiplinkan diri, lalu keluarga, selanjutnya pada lingkungan sekitar.”
Melalui kutipan ini, dapat kita lihat bahwa pengaruh pendidikan yang dilakukan pak Gulu Soli bersifat mikro dan personal, namun dampaknya terasa luas. Hal ini menegaskan bahwa perubahan sosial tak selalu harus berskala besar; tindakan kecil yang konsisten dapat membentuk struktur sosial baru dalam komunitas.
Gambaran Kelas Sosial dan Perubahan Struktural
Dalam cerpen ini tokoh Bowo, juragan Semanggi Suroboyo, yang dulunya dibantu Pak Soli, merepresentasikan mobilitas sosial. Ia bertransformasi dari nyaris korban pencurian menjadi figur penting dalam bisnis lokal. Ironisnya, kesuksesan finansial hampir membuatnya melupakan identitas dan kewajiban moralnya kepada Pak Guru. Hal ini mengindikasikan kritik terhadp corak masyarakat modern yang cenderung materialistis dan mudah mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
“Usaha makanan berbahan utama daun Semanggi dan yang telah terbukti sesuai selera lidah lokal ini sungguh sangat menjanjikan keuntungan bagi Bowo. Kian hari sepertinya Bowo kian amnesia terhadap kata libur. Sehari-hari para pekerja sungguh menghayati ritual kerja keras mereka. Dan demi mengimbangi kecepatan etos kerja yang luar biasa, sekaligus untuk memenuhi permintaan masyarakat agar aliran bisnis tidak tersendat, maka Bowo senantiasa meningkatkan pasokan penjualan. Sehingga bukan mustahil dalam hitungan beberapa bulan donasi pemasukan keuangan mencapai laba di luar perkiraan dan terus tak terbendung. Tuan Bowo adalah pabrik penghasil kekayaan sekaligus mesin penghitung uang yang handal untuk kampung Benowo.”
Dari kisah Bowo pada cerpen tersebut menyoroti adanya mobilitas kelas, di mana ia bangkit dari korban kejahatan menjadi pengusaha yang berhasil. Namun, ironisnya, kesuksesan ini justru membuatnya sempat melupakan solidaritas sosial dan utang budi kepada Soli. Pada bagian ini secara jelas menggambarkan ketegangan antara nilai-nilai sosial dan nilai-nilai kapitalistik. Hal ini mengingatkan pada gagasan Karl Marx mengenai alienasi yang sering dikritik oleh Alan Swingewood, bahwa kapitalisme dapat menjauhkan manusia dari rasa kebersamaan dan ikatan sosial.
Sebaliknya, Hanis melambangkan dimensi kelam masyarakat perkotaan. Ia adalah representasi warga marginal yang kehilangan tempat tinggal, keluarga, dan pada akhirnya akal sehat akibat instabilitas sosial dan tekanan eksistensial. Keberadaannya dalam narasi berfungsi sebagai teguran terhadap kegagalan sistem sosial dalam melindungi individu yang paling rentan di bawah struktur kapitalistik.
”Kenapa kau datang lagi! Rumah ini sudah dijual kakakmu. Pergi kau atau kumasukkan kau ke (Rumah Sakit Jiwa) Menur lagi!” gertak orang yang membukakan pintu itu. Hanis menunduk dalam lalu menyingkir tak jauh dari rumahnya. Barangkali Hanis membutuhkan waktu untuk memungut kenangan selama dia di sana. Hanis menekuri yang tak diketahui Angta. Yang Angta tahu tubuh kawan lamanya telah berubah kurus kerontang mengundang rasa simpati yang mengiba. Kasihan.
Kini Angta paham dengan apa yang terjadi pada diri Hanis. Jiwa Hanis tertekan berat mengetahui kenyataan rumahnya telah dijual ke orang lain. Angta berpikir keras mempertanyakan kepada diri sendiri tentang apa yang dapat dilakukannya untuk Hanis. Lama dia berpikir, Angta tahu ternyata dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk Hanis. Angta pun membiarkan Hanis, kawan lamanya itu, mencari kenangan yang tertinggal di bekas rumahnya. Angta meninggalkan Hanis dalam keadaan diam dengan mata yang menerawang ke dalam satu titik. Kemudian Angta memutuskan berangkat kuliah kembali.
Pada saat proses pembacaan cerpen awalnya saya sempat bingung kenapa muncul satu tokoh di bagian akhir dengan pembeberan getir kehidupan yang cukup menyedihkan dan tiba-tiba, tapi setelah mencoba mengabungkan beberapa pemahaman, kisah Hanis ini seakan menunjukkan potret getir individu yang teralienasi dari ruang sosial yang dulu menjadi bagian dari identitasnya, rumah. Teraliensi disini saya artikan seakan seseorang merasa terasing atau terpisah dari lingkungan sosial, komunitas, atau tempat yang sebelumnya sangat terkait dengan jati dirinya. Ruang sosial di sini mungkin bisa berupa lingkungan fisik (rumah, lingkungan tempat tinggal), kelompok pertemanan, atau bahkan norma dan kebiasaan yang dulu ia anut.
Ketika sebuah ruang sosial disinii menjadi “bagian dari identitasnya”, itu berarti tempat atau kelompok tersebut membentuk siapa dirinya, bagaimana ia berinteraksi, dan apa saja yang ia yakini. Ketika ia teralienasi, ia merasa tidak lagi memiliki tempat atau koneksi emosional dengan ruang tersebut, seolah-olah ia telah menjadi orang luar di tempat yang dulunya adalah “rumahnya” (bukan hanya secara fisik, tapi juga secara batiniah). Seperti Penjualan rumah oleh keluarganya sendiri dan ancaman untuk dikembalikan ke Rumah Sakit Jiwa menunjukkan betapa Hanis telah kehilangan posisi sosial, bahkan di tengah komunitas terdekatnya sendiri.
Angta disini juga sebagai representasi masyarakat “yang sadar” pun pada akhirnya hanya bisa merasa simpati, namun tidak bisa melakukan intervensi sosial apa pun. Seperti yang sudah banyak kita lihat saat ini seakan merefleksikan batas-batas peran individu dalam struktur sosial yang sudah telanjur timpang.
Bahasa dan Budaya sebagai Arena Pergulatan Identitas
Teks ini menggambarkan bagaimana isu bahasa Indonesia yang diangkat oleh Pak Guru dan Angta mencerminkan konflik budaya di era globalisasi. Kekhawatiran akan dominasi bahasa asing dan pudarnya penggunaan bahasa Indonesia menunjukkan realitas sosial saat ini, di mana identitas nasional perlahan memudar akibat kemajuan teknologi dan arus globalisasi.
Pak Guru percaya bahwa bahasa adalah cerminan budaya dan jati diri bangsa. Jika bahasa Indonesia menghilang dari ruang publik, itu berarti keberadaan bangsa di mata dunia juga akan lenyap. Dalam kacamata sosiologi sastra, ini dapat diartikan sebagai upaya mempertahankan ideologi nasionalisme kultural di tengah kuatnya pengaruh global. Seperti pada kutipan berikut:
”Zaman sekarang rajanya teknologi seperti komputer, pager dan televisi. Di negara maju, teknologi sudah berkembang pesat. Kita hanya tinggal menunggu waktu teknologi modern itu masuk ke sini. Tidak akan lama lagi,” ujar Angta pelan-pelan sambil memilih kata yang tepat sesuai tingkat pendidikan lawan bicaranya. ”Apa itu salah? Tidak. Karena kita juga berpeluang maju seperti orang-orang pintar di luar sana. Tetapi setiap teknologi selalu membawa budaya yang sangat asing bagi kita. Ke depan kita bisa tahu apa yang sedang ramai dilakukan di daerah lain tanpa harus berkunjung ke sana.
”Nah pada saat itulah rawan kita kehilangan jati diri, identitas dan budaya kita. Budaya luar akan terlihat keren lalu gampang mempengaruhi kita untuk melakukan juga seperti mereka. Saat ini beberapa orang kaya di tengah kota sudah memakai komputer dan telepon tanpa kabel. Itu menunjukkan kemajuan baik. Tapi masalahnya fitur-fitur atau layanan di dalam teknologi mutakhir itu belum ada yang bisa melayani sesuai kebutuhan kita. Lihat saja bahasanya bahasa Inggris. Dengan begitu kita seakan-akan diarahkan mengubah bahasa kita. Seperti kita yang tanpa sadar dipaksa menggunakan gerakan tangan kanan lebih aktif ketimbang tangan kiri, karena sebagian besar produksi barang yang beredar luas telah dirancang sesuai tangan kanan. Barangkali esok kita akan lebih fasih dan asyik berbahasa asing daripada bahasa sendiri.”
Lambat laun pendengar seolah mendengar samar-samar dua orang berbicara; Angta dan Pak Guru, ”Karena itu kalau tak ada perhatian khusus dari para penggunanya, rentan sekali sebelum tahun 2028, sebelum cukup usia mencapai 100 tahun, nasib bahasa Indonesia bakal senaas bahasa daerah atau bahasa yang tanpa sengaja pelan-pelan dibungkam sejak 1928 lalu.”
Jika kita cermati Kutipan ini adalah bentuk refleksi kekhawatiran tokoh Pak guru Soli dan Angta terhadap lunturnya bahasa nasional di tengah modernitas. Hal ini mencerminkan bahwa karya sastra secara perlahan merekam kecemasan masyarakat terhadap dominasi budaya luar (imperialisme kultural). Bahasa dalam cerpen menjadi medan ideologis yang merefleksikan konflik antara identitas lokal dan global.
Kritik Sosial terhadap Efektivitas Program Pemerintah
Dalam cerpen ini, narasi tidak hanya fokus pada kisah individu, tetapi juga menyentil kegagalan program pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan penataan kebersihan dan sanitasi publik. Sebuah sorotan tajam diarahkan pada ketidakefektifan pemerintah kota dalam menangani isu-isu fundamental yang langsung memengaruhi kualitas hidup warga, seperti kebersihan toilet umum. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada kebijakan atau inisiatif dari pihak berwenang, implementasinya seringkali tidak menyentuh akar permasalahan atau tidak berhasil menciptakan perubahan nyata di lapangan.
Sebaliknya, cerita ini mengkontraskan kinerja pemerintah dengan peran aktif warga seperti Pak Guru. Tindakan-tindakan Pak Guru, yang mungkin terlihat kecil namun konkret dan berorientasi pada solusi praktis, terbukti lebih efektif dan menjangkau langsung kebutuhan masyarakat. Keberhasilan inisiatif mandiri warga ini secara implisit menjadi kritik sosial yang menohok terhadap model birokratisasi solusi sosial. Ini menyoroti bahwa ketika penanganan masalah sosial terlalu terpaku pada prosedur administratif, regulasi, dan struktur yang kaku, seringkali solusi yang dihasilkan menjadi jauh dari kebutuhan riil masyarakat dan gagal memberikan dampak positif yang signifikan. Artinya, cerita ini menggarisbawahi bahwa efektivitas seringkali terletak pada pendekatan yang lebih membumi dan partisipatif, bukan sekadar keputusan dari atas. Hal ini terlihat pada pengalan cerpen berikut:
“Tingkat kesuksesan penanganan toilet memang belum pernah diekspos. Tidak masalah karena warga tidak akan sudi mengetahui hasilnya.”
Kutipan ini mengambarkan kritik dan siindiran terhadap birokrasi pemerintah yang lamban dan tidak efektif dalam menangani masalah dasar masyarakat, seperti kebersihan toilet umum. Tokoh guru Soli justru lebih berhasil dengan pendekatan akar rumput. Dalam ketimpangan antara struktur formal negara dan kebutuhan riil masyarakat, yang sering direpresentasikan dalam karya sastra sebagai bentuk kritik sosial.
Kesimpulan
Cerpen “Biar Bunga Bersemi Bersama” karya Risang Anom Pujayanto merupakan cerminan nyata dari kompleksitas kehidupan sosial masyarakat pinggiran kota, yang diangkat dengan sangat peka melalui tokoh-tokohnya. Dengan pendekatan sosiologi sastra, terutama berdasarkan pemikiran Alan Swingewood dan Sapardi Djoko Damono, karya ini tidak hanya merepresentasikan realitas sosial, tetapi juga menjadi kritik halus terhadap perubahan nilai, ketimpangan struktural, dan pergeseran budaya akibat modernitas dan kapitalisme.
Melalui sosok Pak Guru Soli, cerpen ini menghadirkan figur pendidik yang merepresentasikan nilai-nilai lama yang idealis, penuh semangat nasionalisme, dan komitmen moral. Tokoh-tokoh lain seperti Bowo dan Hanis memperkaya narasi dengan menggambarkan dua sisi ekstrem masyarakat modern: mereka yang mengalami mobilitas sosial tetapi kehilangan kepedulian sosial, dan mereka yang terpinggirkan akibat kegagalan sistem. Sementara itu, peran Angta sebagai generasi muda menegaskan pentingnya kesadaran kritis terhadap budaya dan bahasa nasional di tengah gempuran globalisasi.
Lebih jauh, kritik sosial terhadap kinerja pemerintah dalam menangani isu-isu dasar masyarakat seperti sanitasi, semakin menegaskan bahwa perubahan sosial tidak harus bersifat struktural besar-besaran, melainkan bisa dimulai dari tindakan mikro yang konsisten dan berbasis empati. Cerpen ini membuktikan bahwa karya sastra tidak hanya menjadi medium ekspresi estetika, tetapi juga alat penting untuk membangun kesadaran sosial dan mempertanyakan kembali nilai-nilai yang terus bergeser dalam masyarakat
DAFTAR PUSTAKA
Banjarnahor, R. R., Waruwu, N. P., & Annisa, A. (2022). Analisis pendekatan sosiologi sastra cerpen “ada tuhan” karya Lianatasya. Jurnal Basataka (JBT), 5(1), 27-33.
Sihombing, M. S., Manurung, J. M., Panjaitan, R. P., Sinaga, C., & Anggreini, H. (2025). CERMINAN MASYARAKAT DALAM CERPEN MALIM PESONG KARYA HASAN AL BANA : KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA IAN WATT 6(2), 2513–2524.
Wahyudi, T. (2013). Sosiologi Sastra Alan Swingewood Sebuah Teori. Poetika, 1(1), 55–61. https://doi.org/10.22146/poetika.v1i1.10384
Wiyatmi. (2013). Sosiologi Sastra: Teori dan Kajian terhadap Sastra Indonesia. Kanwa Publiser, 1–159.
Hastuti, N. (2018). Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer Kajian Sosiologi Sastra. Humanika, 25(1), 64-74.

Komentar
Posting Komentar