Bukan Sekadar Kata : Menggali Makna Tersembunyi dalam Cerpen Putu Wijaya Melalui Analisis Dieksis

 


Mengapa Kita Sering Salah Paham?

Komunikasi yang efektif sangat bergantung pada pemahaman mendalam tentang penggunaan bahasa. Sering kali, kelancaran proses ini terbentur pada kegagalan dalam memilih ragam bahasa yang tepat, sehingga menimbulkan kesalahpahaman antara penutur dan lawan tutur. Dalam komunikasi tulis, khususnya, pembaca dituntut untuk menganalisis dan menginterpretasikan maksud sebenarnya yang ingin disampaikan oleh teks.

Salah satu kunci untuk membuka interpretasi ini adalah deiksis. Dalam cabang ilmu pragmatik, deiksisyang berasal dari bahasa Yunani deiktikos yang berarti 'hal penunjukan secara langsung' membahas arah acuan dalam suatu satuan bahasa. Deiksis didefinisikan sebagai fenomena semantik di mana interpretasi suatu konstruksi linguistik sangat bergantung pada konteks situasional penutur sebagai titik acuannya. Artinya, makna dari sebuah kata (seperti "saya," "sini," atau "sekarang") hanya bisa dipahami sepenuhnya jika kita tahu siapa yang berbicara, di mana lokasinya, dan kapan ujaran itu disampaikan.

Deiksis merupakan elemen fundamental, tidak hanya dalam percakapan lisan tetapi juga dalam karya sastra, yang merupakan representasi kehidupan rekaan sastrawan. Analisis deiksis menjadi krusial untuk mengungkap maksud dan makna di balik teks naratif, dan itulah yang mendasari penelitian ini pada cerpen fenomenal Putu Wijaya, "Bersiap Kecewa, Bersedih Tanpa Kata-Kata".

Membongkar Lapisan Makna Melalui Lima Jenis Dieksis

Cerpen Putu Wijaya ini ternyata adalah laboratorium linguistik yang kaya, yang mana setiap jenis deiksis memainkan perannya dalam membangun narasi dan karakter.

1. Deiksis Persona: Kedekatan dan Ketegangan Emosional

Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal, di mana narator secara dominan menyebut dirinya sebagai "Aku". Penggunaan "Aku" ini bukan sekadar gaya bercerita, tetapi berfungsi untuk menunjukkan keterlibatan emosional narator dan posisi sentralnya dalam cerita, sehingga membangun empati dan keterlibatan yang tinggi dari pembaca.

Sebaliknya, penjaga toko dirujuk sebagai "Dia" atau "Ia". Namun, hubungan sosial yang terbentuk justru sangat menarik, berpusat pada panggilan "Bapak" oleh penjaga toko kepada narator.

2. Deiksis Sosial: Formalitas yang Mengejutkan

Inilah penemuan yang paling kuat dalam analisis ini. Sapaan "Bapak" yang konsisten digunakan oleh penjaga toko kepada narator misalnya, "Yang harganya sekitar berapa Pak?" atau "Bunga ini hadiah dariku untuk Bapak" menunjukkan deiksis sosial yang menandai formalitas dan rasa hormat.

Puncak ketegangan sosial terjadi ketika terungkap bahwa penjaga toko itu sebenarnya adalah pemilik toko yang secara ekonomi jauh lebih tinggi statusnya, terlihat dari kepemilikan "sebuah Ferrari merah yang seperti nyengir di depan toko". Meskipun demikian, ia tetap mempertahankan sapaan hormat "Pak". Ini menggarisbawahi bahwa penjaga toko tersebut memilih untuk menjaga kesopanan dan formalitas terlepas dari perbedaan status sosial (ekonomi) yang sebenarnya, bahkan ketika narator yang seharusnya lebih rendah statusnya secara sosial (profesional/usia) disapa dengan hormat.

3. Deiksis Waktu dan Tempat: Menciptakan Kronologi dan Ketegangan

Deiksis waktu menyusun kronologi cerita, sekaligus membangun ketegangan emosional. Ungkapan relatif seperti "Setengah jam kemudian aku bangkit" dan "Satu jam kemudian dia baru muncul" menyampaikan perasaan menunggu dan menciptakan alur yang runtut. Cerita kemudian ditutup dengan waktu absolut: "Jakarta, 30 Juni 2011".

Sementara itu, deiksis tempat menambatkan cerita pada latar yang nyata, seperti "toko bunga itu" (lokasi kejadian utama), "Cirendeu" (lokasi rumah narator), dan juga penanda lokasi seperti "sebuah rangkain bunga tulip dan mawar berwarna pastel" di dalam toko.

4. Deiksis Wacana: Menjaga Keterkaitan Teks

Deiksis wacana berfungsi untuk menjaga kohesi dan koherensi dalam teks, di mana rujukan diarahkan pada bagian-bagian lain dalam cerpen itu sendiri. Contohnya adalah frasa "bunga yang sudah beberapa kali aku lewati" yang merujuk kembali pada rangkaian bunga tulip dan mawar yang dideskripsikan sebelumnya. Demikian pula kata "Ini" dalam ujaran "Ya, ini yang aku cari" mengacu pada rangkaian bunga yang sedang dibicarakan.

Menariknya, deiksis wacana juga digunakan untuk mengoreksi rujukan kultural: "Itu bukan sajak Gibran, tapi kalimat yang ditarik dari sajak Di Beranda Itu Angin Tak Berembus Lagi karya Goenawan Mohamad: 'Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata'.".

Kesimpulan

Analisis ini menegaskan bahwa deiksis adalah elemen fundamental dalam setiap komunikasi, baik lisan maupun tulis. Kelima jenis deiksis (Persona, Waktu, Tempat, Wacana, dan Sosial) berhasil diidentifikasi dan diklasifikasikan dalam cerpen Putu Wijaya ini, membuktikan bahwa maknanya bergantung pada pemahaman kontekstual yang komprehensif—meliputi siapa yang berbicara, kapan, di mana, apa yang sedang dibicarakan, dan relasi sosial antar partisipan.

Terutama, analisis ini berhasil menguak dinamika sosial tersembunyi, di mana penggunaan deiksis sosial (sapaan "Bapak") oleh seorang tokoh yang berstatus ekonomi lebih tinggi justru berfungsi untuk mempertahankan rasa hormat dan kesopanan, memberikan kedalaman makna yang melampaui alur cerita di permukaan. Analisis deiksis menjadi kunci yang secara sistematis mengungkap konteks tuturan yang kompleks, sehingga meminimalkan kesalahpahaman bagi pembaca sastra.

(Artikel singkat ini merupakan hasil dari pengalihwahaan dari Makalah yang disusun guna memenuhi tugas akhir mata kuliah Pragmatik. Tentunya masih banyak kekurangan yang ada sehingga saya sangat terbuka untuk masukan yang di berikan)

with love didi.

Komentar