Hutang Peradaban Penulis dan Proses Dialektika Kreatif.

 

https://pin.it/4hosaxcMt

Bahasa, sebagai tulang punggung peradaban, memiliki peran fundamental dalam komunikasi. Namun, dalam ranah kesusastraan, fungsinya melampaui sekadar alat komunikasi sehari-hari. Ia bertransformasi menjadi medium yang dinamis, sarat makna, dan pribadi. 

Dalam makalahnya "Bahasa sebagai Alat Pengucapan Kesusastraan," Abdul Hadi W.M. menyoroti perdebatan penting tentang sejauh mana sastrawan Indonesia mampu memanfaatkan bahasa untuk mengungkapkan nilai-nilai seni dan jiwa manusia yang terus bergejolak. Melalui pemikiran para sastrawan besar seperti Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, dan Amir Hamzah, esai Abdul Hadi W.M. ini menggarisbawahi bagaimana bahasa sastra harus menembus batas-batas kelaziman untuk mencapai kebaruan dan kedalaman suatu bahasa.

Pada dasarnya, bahasa adalah sistem tanda yang digunakan untuk mentransfer ide, pikiran, dan perasaan. Namun, seiring waktu, ia bisa menjadi beku dan miskin akibat penggunaannya yang monoton. Hal inilah yang dikhawatirkan Sapardi Djoko Damono, yang mengkritik sajak-sajak yang dianggap gagal melampaui idiom sehari-hari. Baginyaa, kata-kata dalam puisi bukan hanya penghubung, melainkan objek yang mendukung imaji, yang membedakannya dari kata-kata dalam komunikasi biasanya. 

Chairil Anwar, yang oleh Sapardi dianggap sebagai contoh terbaik, telah berhasil "mendestruktif" bahasa lama untuk melahirkan gaya baru yang padat dan tajam. Keberhasilan ini tidak lain karena sikap kreatif dan kritisnya terhadap bahasa.

Kesusastraan menuntut lebih dari sekadar penggunaan bahasa yang benar secara tata bahasa. Ia membutuhkan bahasa yang mampu mengungkapkan "pengalaman rohani" yang sangat pribadi dan subyektif. 

Roland Barthes menyebutnya "gaya" yang bersifat pribadi dan intim, yang terikat erat dengan diri penulis. Bahasa sastra adalah bahasa yang digerakkan oleh "dunia dalam diri penulis," tempat di mana seorang sastrawan menjelajahi pengalaman, harapan, dan bayangan batinnya. Ini adalah sebuah proses yang seringkali tidak logis dan mendahului aturan, seperti yang diungkapkan oleh Subagio Sastrowardoyo yang merasa "mabok kata-kata" saat mendapatkan ilham.

Perbedaan mendasar antara bahasa sastra dan bahasa non-sastra terletak pada fungsi dan tujuannya. Bahasa diskursif, yang biasanya digunakan dalam ilmu pengetahuan atau laporan ilmiah, bertujuan untuk memberikan informasi yang jelas dan pasti. Sementara itu, bahasa sastra, terutama dalam puisi, berani menampilkan ambiguitas, irama, dan citra yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh logika. Ia menciptakan sebuah kenyataan subyektif yang keluar dari diri penyair, yang seringkali tidak terikat pada makna kamus. Misalnya, kata "Adam" dalam sajak Subagio dan Sapardi memiliki makna yang berbeda, mencerminkan keadaan jiwa penyairnya, bukan sekadar menunjuk pada tokoh mitologis sajas.

Dengan demikian,usai membaca keseluruhan dari esai ini muncul suatu pemahaman baru dalam benak saya,yaitu  tanggung jawab seorang sastrawan adalah untuk memperkaya bahasa, menolak "tirani kata-kata" yang korup, dan menggali potensi bahasa menjadi pola yang dinamis.

 Sastrawan seperti Chairil Anwar dan Amir Hamzah contohnya yang telah membuktikan bahwa dengan keberanian dan kepekaan, bahasa dapat melompat jauh dari kelaziman, sehingga dapat membuka kemungkinan baru untuk ekspresi. Kesusastraan adalah medan di mana bahasa terus-menerus diganggu-gugat dan diperbarui, memastikan bahwa ia tidak pernah berhenti berkembang dan sanggup menyuarakan kedalaman jiwa manusia.

Pada akhirnya, bahasa dan sastra adalah sebuah dialektika yang saling menguntungkan. Sastra memberi bahasa ruang untuk berevolusi, membebaskannya dari tirani kelaziman, dan menjadikannya medium yang hidup untuk mengungkapkan kedalaman jiwa manusia. 

Sebaliknya, vitalitas bahasa menentukan kemampuan sastra untuk tetap relevan dan resonan. Tanpa sikap kreatif dan kritis dari para sastrawan, bahasa akan stagnan dan sastra akan kehilangan kekuatannya. Oleh karena itu, tugas seorang penulis adalah tidak hanya menulis, tetapi juga menjadi pelindung dan pembaharu bahasa, memastikan bahwa dialektika kreatif ini terus berlanjut.

 

*Sebuah catatan Pembacaan ulang Essai karangan Abdul Hadi W.M. 

 

Komentar